Monday, October 28, 2013

Tanda Dan Gejala Autisme


Gejala autisme timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang cukup memperhatikan perkembangan anaknya sudah akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia satu tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya kontak mata. Bayi tersebut secara aktif menghindari kontak mata, dengan ibunya sekalipun. Iapun tidak memberikan respons bila dipanggil namanya atau diajak bergurau oleh ibunya. Namun ia bisa sangat senang dan tertawa terkekeh-kekeh bila melihat mainan yang berputar yang digantung diatas tempat tidurnya. 

Sebagian kecil dari penyandang autisme sempat berkembang normal, namun sebelum mencapai umur 3 tahun perkembangannya terhenti, kemudian timbul kemunduran dan mulai tampak gejala-gejala autisme. Jika ditanyakan dan orangtua mencoba mengingat-ingat kembali, mungkin dikemukakan adanya faktor pencetus seperti misalnya sakit berat, punya adik, ditinggal oleh baby sitter/pengasuhnya, bahkan ada yang gejalanya timbul setelah mendapatkan imunisasi.

Orangtua umumnya mulai tersadar mengenai adanya masalah/perbedaan antara anaknya dengan kakaknya atau anak orang lain, dalam dua tahun pertama usia anak. Tanda dan gejala biasanya mulai timbul secara bertahap sesuai tahapan perkembangan anak. Mungkin orangtua sudah menyadari adanya perbedaan/keanehan pada anak mereka sejak dari lahir, yaitu tidak responsif terhadap orang sekitarnya, serta mungkin perhatiannya terfokus lama pada sesuatu hal saja. Ada juga anak-anak yang mulanya berkembang relatif normal, namun kemudian terjadi regresi (kemunduran) pada usia 18 bulan (1 tahun 6 bulan), dimana beberapa kemampuan yang tadinya mulai ada (misalnya sudah mulai berkata-kata sepatah dua patah kata) namun tiba-tiba menghilang, serta terlihat/menampakkan beberapa ciri/gejala autistik. Regresi ini diyakini berhubungan dengan jamur Candida albicans, virus, vaksinasi, dan terjadinya kejang.

Hal klasik yang sering terjadi, yaitu jika orangtua memperhatikan adanya keanehan/perbedaan pada anak mereka dibandingkan anak lain, maka ketika mereka menyatakan keprihatinan/kekuatirannya kepada lingkungannya, maka lingkungan akan berespons dengan mengemukakan mitos-mitos yang tidak benar seperti misalnya “anakmu kan laki-laki, jadi bicaranya lambat”, “anakmu kan jalan/tumbuh gigi lebih dulu, jadi bisa bicaranya belakangan”, “ah lu terlalu kuatir, si anu juga dulu lambat bicaranya, sekarang cerewet”, dlsb. Bahkan mitos-mitos yang salah ini kadang juga diucapkan oleh seorang dokter. Namun orangtua yang sehari-hari bersama dengan anak dan memperhatikan anak mereka, akan melihat bahwa semakin hari anak mereka semakin berbeda dengan anak-anak lain sepantaran/seusianya. Oleh karena itu maka sering terjadilah “shopping” dokter, yaitu orangtua membawa anak mereka dari satu dokter ke dokter yang lain untuk mendapatkan diagnosis, sampai akhirnya jika beruntung, mereka bertemu dengan dokter yang waspada atau menguasai tentang autisme. Malangnya jika mereka tetap tidak bertemu dengan dokter yang demikian tersebut, ataupun jika bertemu dengan dokter yang dengan yakin (namun ternyata salah) dan dapat menyakinkan orangtua bahwa anaknya bukan autisme (tidak autistik) yang mungkin klop dengan pemikiran/pendapat orangtua yang berada dalam fase denial (penyangkalan) dalam menerima suatu keadaan/pukulan yang berat dalam hidup mereka (coping mechanism), maka mereka akan berkeyakinan (yang ternyata salah) bahwa anak mereka bukanlah autistik.

Banyak bayi-bayi autistik yang berbeda sejak lahir. Dua ciri umum yaitu mereka menghindari kontak fisik misalnya dengan membengkokkan punggungnya sehingga menjauhi orangtuanya/pengasuhnya, dan tidak bereaksi jika akan diangkat/digendong. Pada masa bayi, mereka mungkin terlihat pasif atau mungkin terlihat bergerak-gerak berlebihan. Yang dimaksud dengan bayi pasif yaitu mereka yang hampir sepanjang waktu sangat tenang. Sedangkan bayi yang bergerak berlebihan merupakan bayi yang tidak mau diam, kadang dalam tempo yang panjang saat mereka bangun, dan banyak yang bergoyang-goyang (rocking) atau membentur-benturkan kepalanya (head banging).

Dalam tahun pertama kehidupan, sebagian bayi perkembangan motoriknya mungkin normal, dan sebagian lainnya agak terlambat. Kemudian semakin besar, anak-anak autistik akan semakin terlihat terbelakang dibandingkan anak-anak seusianya pada bidang komunikasi, ketrampilan sosial, dan pemahaman. Selain itu, timbul perilaku-perilaku yang disfungsional seperti stimulasi diri (yaitu perilaku yang berulang-ulang dan tanpa tujuan, seperti bergoyang-goyang ke depan-belakang/rocking, mengepak-ngepakkan tangannya/hand-flapping), melukai diri sendiri/self-injury (misalnya menggigiti tangan, membentur-benturkan kepala/head-banging), masalah tidur dan makan, kontak mata buruk, kebal terhadap rasa sakit, hiper/hipo-aktif, dan tidak berperhatian.

Suatu ciri yang umum pada autistik yaitu kegigihannya terhadap hal yang sama terus (‘insistence of sameness’ / ‘perserverative’ behavior). Banyak anak yang menjadi sangat berlebihan terhadap suatu rutinitas, yang jika berubah sedikit saja akan menyebabkan mereka bingung/terganggu atau mengamuk. Beberapa contoh, misalnya makan dan/atau minum tertentu yang sama terus, memakai pakaian tertentu, ingin melalui jalan yang sama terus. Salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan mereka untuk memahami atau mengatasi situasi yang baru.

Sebagian anak autistik menunjukkan gangguan/masalah pada satu atau beberapa inderanya, yaitu meliputi pendengaran, penglihatan, taktil (perabaan/sentuhan), pengecapan, keseimbangan, penciuman, dan proprioseptif/vestibular (penginderaan pada otot, urat/tendo, sendi, dan organ keseimbangan, yang mendeteksi gerakan serta posisi tubuh dan anggota badan). Masalah penginderaan tersebut mungkin sebagai hipersensitif atau bahkan hiposensitif. Sehingga menyebabkan penyandang autisme kesulitan dalam mengolah informasi rangsangan yang ada, sebagai contoh, ada penyandang autisme yang menghindari segala bentuk kontak tubuh, sedangkan yang lainnya tahan/kebal terhadap rasa sakit. Sekitar 40% individu autistik tidak suka pada suara-suara atau frekuensi tertentu, sehingga sering tantrum ketika mendengar suara tangisan bayi atau sepeda motor. Sebaliknya, beberapa anak seperti tampak tuli karena tidak berespons terhadap berbagai suara. 

Gejala-gejala autisme akan tampak makin jelas setelah anak mencapai usia 3 tahun, yaitu berupa: 
1. Gangguandalam bidang komunikasi verbal maupun non-verbal:
- terlambat bicara, 
- meracau dengan bahasa yang tak dapat dimengerti orang lain,
- kalaupun mulai bisa mengucapkan kata-kata namun ia tak mengerti artinya,
- bicara tidak dipakai untuk komunikasi,
- banyak meniru atau membeo (echolalia),
- beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada maupun kata-katanya, tanpa mengerti artinya, 
- bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan yang terdekat dan memperlakukan tangan tersebut sekedar sebagai alat untuk melakukan sesuatu untuknya.

2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial: 
- menolak/menghindar untuk bertatap mata, 
- tak mau menengok bila dipanggil,
- seringkali menolak untuk dipeluk,
- tak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang malah lebih asik main sendiri,
- bila didekati untuk diajak main ia malah menjauh.

3. Gangguan dalam bidang perilaku : 
- Pada anak autistik terlihat adanya perilaku yang berlebihan (excessive) dan kekurangan (deficient).
- Contoh perilaku yang berlebihan adalah : adanya hiperaktivitas motorik, seperti tidak bisa diam, lari kesana-sini tak terarah, melompat-lompat, berputar -putar, memukul-mukul pintu atau meja, mengulang-ulang suatu gerakan tertentu.
- Contoh perilaku yang kekurangan adalah : duduk diam bengong dengan tatap mata yang kosong, bermain secara monoton dan kurang variatif secara berulang-ulang, duduk diam terpukau terhadap sesuatu hal misalnya bayangan, atau benda yang berputar.
- Kadang-kadang ada kelekatan/asyik pada benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar, gelang karet atau apa saja yang terus dipegangnya dan dibawa kemana-mana. Perilaku yang ritualistik sering terjadi. 

4. Gangguan dalam bidang perasaan/emosi :
- Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misalnya melihat anak menangis ia tidak merasa kasihan melainkan merasa terganggu dan anak yang sedang menangis tersebut mungkin didatangi dan dipukul.
- Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata. 
- Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan apa yangdiinginkan, bahkan bisa menjadi agresif dan destruktif.

5. Gangguan dalam persepsi sensoris : 
- Mencium-cium, menggigit atau menjilat mainan atau benda apa saja. 
- Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
- Tidak menyukai rabaan atau pelukan.
- Merasa sangat tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan yang kasar. 

Gejala-gejala yang digambarkan di atas tidak harus ada semua pada setiap anak penyandang autisme. Pada seorang anak mungkin hampir semua gejala di atas ada, tapi pada anak lainnya mungkin hanya terdapat sebagian saja dari gejala di atas.

Sumber: Dr Rudy Sutadi, SpA, MARS, SPdI www.kidaba.com

No comments:

Post a Comment

Tempah IKLAN anda di sini

IKLAN
IKLAN
IKLAN
IKLAN
Advertise Now!